Mengetuk Pintu Langit, Kisah Air Mata dan Asa Anak-Anak Sekolah Rakyat dari Garis Kemiskinan

BANDUNG BARAT ROIS7

Di tengah gemerlapnya modernisasi dan tuntutan digitalisasi pendidikan, masih ada potret nyata perjuangan hidup yang teramat perih di sudut-sudut pedesaan. Mereka adalah anak-anak usia sekolah yang harus bertarung dengan rasa lapar sebelum sempat memikirkan masa depan. Minggu,28/6

Kini, secercah harapan hadir melalui Sekolah Rakyat. Lembaga ini secara khusus merekrut murid-murid dari keluarga tidak mampu melalui tahapan seleksi ketat yang disesuaikan dengan Desil 1 dan Desil 2 pada Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG). Sebuah langkah nyata untuk memastikan bahwa bantuan pendidikan benar-benar jatuh ke tangan yang paling membutuhkan.

Di balik data-data angka kemiskinan tersebut, tersimpan cerita-cerita humanis yang mampu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.

Menunggu Ayah Pulang demi Sepiring Nasi
Sebut saja namanya Bunga (bukan nama sebenarnya). Setiap hari, asa Bunga untuk bisa makan bersama keluarganya digantungkan pada keranjang jualan sang ayah. Ayah Bunga adalah seorang pedagang kerupuk Cililin keliling.

Bukan hal yang mudah menjajakan kerupuk dari kampung ke kampung di tengah ketidakpastian ekonomi. Hampir setiap hari, Bunga dan ibunya harus dengan sabar menanti kepulangan sang ayah. Jika kerupuknya laku, barulah dapur mereka bisa mengepul. Jika sebaliknya, mereka terpaksa menahan lapar dalam diam. Menunggu hasil jualan keliling telah menjadi ritual harian yang penuh kecemasan sekaligus ketabahan bagi keluarga kecil ini.

Berbekal Rp5.000 dan Kenyataan Pahit Kerja Serabutan
Kisah pilu lain datang dari anak yang bapaknya kerja serabutan kita samarkan namanya OO ,Bocah malang ini setiap bulan diberi uang Rp5.000 rupiah .

Bagi anak-anak lain, uang tersebut mungkin hanya cukup untuk sebungkus camilan ringan. Namun bagi OO, uang itu harus dicukup-cukupkan agar perutnya tidak kosong.

Orang tua OO adalah pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu—hari ini ada kerjaan, besok belum tentu. Uang lima ribu rupiah itu adalah batas maksimal kemampuan orang tuanya demi melihat sang anak tetap bisa bertahan.

Jangankan Ponsel Pintar, untuk Makan Saja Susah
Mendengar penuturan dan menyaksikan langsung kehidupan mereka, realita seolah menampar kita semua. Di era di mana anak-anak seusia mereka sibuk dengan gawai (HP) canggih dan fasilitas serba ada, bagi Bunga, OO, dan teman-temannya di Sekolah Rakyat, hal tersebut bagaikan mimpi yang teramat jauh.

“Jangankan untuk membeli HP atau barang sejenisnya untuk keperluan belajar digital, untuk bisa makan sehari-hari saja mereka harus berjuang setengah mati,”* ujar salah satu pendamping lapangan dengan mata berkaca-kaca.

Mereka Adalah Aset Negara yang Wajib Dijaga
Anak-anak dari Desil 1 dan Desil 2 SIKS-NG ini bukanlah beban. Di balik pakaian mereka yang sederhana dan wajah yang menahan lapar, mereka adalah mutiara-mutiara bangsa yang terpendam. Mereka adalah aset negara yang memiliki hak yang sama untuk cerdas dan sukses.

Sesuai dengan amanat konstitusi, anak-anak terlantar dan fakir miskin wajib dipelihara oleh negara. Melalui wadah Sekolah Rakyat ini, diharapkan mereka tidak hanya diberikan ilmu, tetapi juga dibina karakter, mental, dan dipulihkan martabatnya.

Kisah Bunga dan OO adalah tamparan sekaligus panggilan kemanusiaan bagi semua pihak—baik pemerintah daerah maupun para agniya (orang kaya)—untuk mengulurkan tangan. Sebab, menyelamatkan pendidikan dan gizi anak-anak ini hari ini, berarti sedang menyelamatkan masa depan bangsa ini di masa depan.

( Red )