Langit Mendung di Sukabumi , Kepergian Pilu Bocah 12 Tahun di Tangan Sang Ibu Tiri
SUKABUMI ROIS7
Sabtu ini, udara di Kabupaten Sukabumi terasa lebih berat dari biasanya. Sebuah kabar duka menyayat hati menyebar cepat, menyisakan sesak bagi siapa saja yang mendengarnya. Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun, yang seharusnya masih asyik mengejar mimpi dan tawa di bangku sekolah, harus menutup mata selamanya dengan cara yang paling tidak manusiawi.
Korban menghembuskan napas terakhirnya dalam kondisi yang memprihatinkan. Sekujur tubuh mungilnya dipenuhi luka bakar serius—luka yang bukan berasal dari kecelakaan murni, melainkan diduga kuat akibat kekejaman ibu tirinya sendiri.
Jeritan Diam di Balik Pintu Rumah
Tragedi ini terungkap setelah warga sekitar mencium kejanggalan di lingkungan rumah korban. Kecurigaan yang awalnya hanya bisik-bisik berubah menjadi kenyataan pahit saat kondisi fisik korban terlihat sangat parah. Meski sempat dilarikan ke fasilitas medis untuk mendapatkan pertolongan darurat, luka-luka di tubuhnya terlalu berat untuk ditanggung oleh raga sekecil itu.
Dugaan sementara menunjukkan bahwa luka bakar tersebut adalah hasil dari tindakan kekerasan sengaja yang terjadi di dalam rumah—tempat yang seharusnya menjadi benteng paling aman bagi seorang anak.
Langkah Hukum dan Pencarian Keadilan
Pihak Polres Sukabumi bergerak cepat mengamankan TKP dan memeriksa sejumlah saksi. Ibu tiri korban kini telah diamankan untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang sangat melukai rasa kemanusiaan ini.
“Kami masih melakukan pendalaman dan menunggu hasil autopsi resmi untuk memastikan penyebab kematian korban serta jenis benda yang menyebabkan luka bakar tersebut,” ujar perwakilan kepolisian, Sabtu (21/2/2026).
Luka bagi Kita Semua
Kepergian bocah ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tapi juga memicu gelombang amarah dan simpati di jagat maya. Netizen dan warga lokal mendesak agar hukum ditegakkan seberat-beratnya. Kasus ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua: bahwa di balik dinding rumah yang tertutup, mungkin ada anak-anak yang sedang berjuang melawan ketakutan sendirian
( Red )








