Memperkuat Akar Rumput, BPBD Bandung Barat Genjot Simulasi Evakuasi Mandiri di Tiga Kecamatan Rawan
BANDUNG BARAT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) bergerak cepat memperkuat benteng pertahanan di tingkat desa. Di bawah komando Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana yang baru, H. Dudi Prabowo, S.Sos., M.M., BPBD KBB menggelar program peningkatan kapasitas kebencanaan secara maraton yang difokuskan pada kesiapan masyarakat akar rumput.
Sebagai langkah awal, tiga kecamatan dipilih menjadi lokus (titik fokus) utama program strategis ini, yaitu Kecamatan Lembang, Saguling, dan Ngamprah. Pemilihan wilayah ini didasarkan pada pemetaan potensi risiko bencana yang membutuhkan penanganan dan kesiapsiagaan cepat.
Plt. Kalak BPBD KBB, H. Dudi Prabowo, memimpin langsung jalannya program untuk memastikan seluruh elemen di lapangan memiliki frekuensi yang sama dalam memitigasi risiko bencana.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB, Dedi Supriadi, S.E., M.M., menegaskan bahwa edukasi ini bukan sekadar pemaparan teori di atas kertas. BPBD ingin mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi gagap atau kebingungan saat bencana pemicu seperti gempa bumi atau tanah longsor tiba-tiba melanda.
”Kita harus belajar dari peristiwa-peristiwa masa lalu, seperti kejadian di Pasirlangu. Saat bencana terjadi, waktu sangat krusial. Minimal, masyarakat di tingkat RT dan RW paham cara melakukan evakuasi mandiri yang benar.
Hal-hal mendasar seperti teknik menggendong atau memindahkan korban cedera dengan aman harus dikuasai,” ujar Dedi.
Dedi mengingatkan bahwa sains dan teknologi secanggih apa pun belum mampu memprediksi detik pasti terjadinya gempa atau longsor.
Oleh karenia itu jalan satu-satunya variabel yang bisa dikendalikan manusia adalah kapasitas kesiapan dirinya sendiri.
Menghidupkan Sinergi ‘Pentahelix’ di Lapangan
Ada yang berbeda dalam pendekatan BPBD KBB kali ini.
Program peningkatan kapasitas ini secara agresif menerapkan konsep Kolaborasi Pentahelix. BPBD tidak lagi bergerak sendirian secara top-down, melainkan merajut sinergi dari lima poros utama:
Pemerintah daerah sebagai fasilitator dan regulator.
Masyarakat dan relawan sebagai garda terdepan di lokasi.
Media massa untuk mempercepat penyebaran informasi valid.
Dunia usaha guna mendukung pemulihan ekonomi dan logistik.
Akademisi, yang pada kesempatan ini melibatkan unsur dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk menyumbang kajian taktis.
Pelatihan intensif ini dihadiri oleh jajaran aparatur desa, relawan kemanusiaan, pengurus Desa Tangguh Bencana (Destana), serta Forum
Detsana KBB.
Menatap ke depan, BPBD KBB berkomitmen menyisir seluruh desa di Bandung Barat secara bertahap. Salah satu strategi yang akan direplikasi ke wilayah lain adalah model integrasi struktural yang sukses diterapkan di Desa Nyalindung.
Di Nyalindung, posisi Ketua Desana dipegang langsung oleh Sekretaris Desa (Sekdes). Model perkawinan jabatan ini terbukti sangat efektif.
Ketika program mitigasi danbencana digulirkan, birokrasi anggaran desa dan gerak relawan di lapangan bisa langsung menyatu tanpa terhambat sekat komunikasi…
Tjandraz.








