Dari Akar Bambu Desa Margajaya, Wayang Tunggul Awi Karya Bongsar Bawa Nama Jawa Barat ke Panggung Wayang Sedunia
BANDUNG BARAT – Sebuah kreativitas tak lazim dari tangan seniman lokal berhasil mengangkat nama budaya Sunda ke kancah dunia. Mochamad Yusep, yang akrab disapa Bongsar, mencetuskan inovasi pewayangan yang belum pernah ada sebelumnya: Wayang Tunggul Awi. Diciptakan pada tahun 2011, wayang ini terbuat dari batang bambu yang masih menyisakan akar alaminya, lalu diolah menjadi bentuk wajah wayang dengan keindahan yang tidak dipaksa buatan.

Keunikan karya Bongsar terletak pada filosofi “mengikuti alam”. Berbeda dengan wayang golek atau wayang kulit yang bentuknya disesuaikan dengan sketsa, Wayang Tunggul Awi justru dikembangkan dari lekuk, serat, dan struktur alami akar bambu itu sendiri. Bongsar hanya menyempurnakan garis-garis yang sudah ada menjadi hidung, mata, mulut, dan ekspresi wajah karakter wayang. Hasilnya: setiap tunggul bambu menjadi sosok wayang yang satu-satunya, tidak akan pernah ada duplikat yang sama persis di dunia.
Puncak pengakuan atas inovasi itu terwujud ketika Bongsar bersama grup seninya, Jaga Baya, ditunjuk resmi sebagai utusan Kabupaten Bandung Barat untuk mewakili Provinsi Jawa Barat dalam Festival Wayang Internasional yang digelar di Kota Batu Parahyangan. Acara bergengsi ini dihadiri oleh puluhan seniman wayang terbaik dari berbagai belahan dunia, termasuk Belanda, Amerika Serikat, Jepang, dan sejumlah negara lain yang memiliki tradisi seni pertunjukan wayang yang kuat. Di panggung tersebut, Wayang Tunggul Awi berhasil mencuri perhatian penonton dan sesama seniman karena keaslian bahan, kesederhanaan, namun nilai filosofi budaya Sunda yang sangat kental.
Bakat besar Bongsar bukanlah bakat instan. Darah seni sudah mengalir sejak ia lahir dari ayahnya, Alm. Endang Sumarna Sukatma – sosok maestro wayang golek legendaris yang pernah meraih juara pertama tingkat Jawa Barat pada tahun 1973. Sejak masih kecil, Bongsar tidak pernah lepas dari panggung pertunjukan: ia selalu diajak sang ayah ikut pentas ke berbagai daerah, menyerap setiap gerak tangan, irama sinden, dan dialog filosofis wayang yang kelak menjadi pondasi seluruh karyanya. Pria kelahiran Desa Margajaya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat ini pun tumbuh dengan kecintaan yang mendalam pada warisan budaya leluhurnya.
Kini, melalui Wayang Tunggul Awi, Bongsar tidak hanya meneruskan jejak sang ayah, tetapi juga membuktikan bahwa bahan alam sederhana di sekitar pedesaan bisa diubah menjadi karya seni yang diakui dunia. Kehadirannya di festival internasional menjadi bukti nyata: inovasi anak daerah mampu berdiri sejajar dengan karya seniman mancanegara, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk terus menggali potensi budaya lokal sendiri, bukan hanya meniru karya dari luar.
Penulis berita : Tjandras, S.,Sn








