Miris, Siswa PAUD & Kober di Sindangkerta Belum Tersentuh Program MBG, Kepsek: “Kami Hanya Bisa Liwetan”

BANDUNG BARAT ROIS7

 

Di tengah gencarnya sosialisasi program unggulan Pemerintah Pusat, Makanan Bergizi Gratis (MBG), nyatanya masih ada sekolah yang seolah “terlupakan”. Hal ini dialami oleh puluhan siswa di PAUD dan Kober Amal Shaleh yang berlokasi di Kp. Pasirmuncang, Desa Cicangkanggirang, Kecamatan Sindangkerta. Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat,Jumat 30/01

 

Kepala Sekolah, Asep Hermawan, mengungkapkan kekecewaannya melalui sebuah unggahan yang kini menarik perhatian publik. Meskipun di wilayah desanya dikabarkan sudah terdapat dua titik “Dapur MBG”, namun sebanyak 25 siswanya yang rata-rata berusia 6 tahun belum pernah sekalipun merasakan manfaat program tersebut.

 

Hanya Bisa Menonton dari Jauh

Asep menceritakan momen pilu saat anak-anak didiknya hanya bisa melihat kendaraan pengantar makanan bergizi melintas di depan sekolah mereka tanpa pernah berhenti.

 

“Hanjakal ti saprak dibuka di desa Kuring tos aya 2 dapur MBG cenah, tapi murid kuring can pernah sakali-kali acan ngasalan eta MBG. Kur ngaliwat we ka hareupen barudak,” tulis Asep dalam keterangannya yang menggunakan bahasa Sunda.

(Sangat disayangkan, sejak dibuka di desa saya sudah ada 2 dapur MBG, tapi murid saya belum pernah sekali pun mencicipi MBG tersebut. Hanya lewat saja di depan anak-anak.)

 

Sebagai bentuk inisiatif agar anak-anak tetap mendapatkan asupan makan bersama, pihak sekolah akhirnya rutin mengadakan nasi liwet sederhana. Dalam foto yang beredar, terlihat para siswa duduk lesehan beralaskan daun pisang, menikmati nasi liwet apa adanya sebagai pengganti menu bergizi yang mereka harapkan.

 

Upaya Komunikasi Nihil Respon

Pihak sekolah mengaku tidak tinggal diam. Asep mengklaim telah berupaya menghubungi petugas lapangan, bahkan sempat mencoba mencegat sopir pengantar makanan agar aspirasi mereka sampai ke pimpinan program di tingkat wilayah. Namun, hingga saat ini, belum ada respon positif maupun kejelasan mengenai distribusi jatah untuk sekolah mereka.

 

Harapan Ada yang “Melek”

Melalui informasi ini, Asep Hermawan berharap pihak terkait, mulai dari tingkat desa hingga pelaksana program MBG di Kabupaten Bandung Barat, bisa lebih jeli dan transparan dalam melakukan pendataan.

 

“Manawi aya nu melek (semoga ada yang peduli/sadar),” pungkasnya. Ia menegaskan bahwa setiap anak Indonesia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses makanan bergizi demi masa depan yang lebih baik, tanpa terkecuali bagi mereka yang berada di pelosok Sindangkerta.