OPINI: Hiruk-Pikuk Pendidikan: Antara Harapan, Ilusi, dan Ketimpangan
Oleh: Bana Sopandi
Di negeri ini, pendidikan sering dijual sebagai jalan suci menuju masa depan. Sejak kecil, anak-anak ditanamkan mimpi: harus sekolah tinggi, harus masuk sekolah negeri, harus mengejar gelar apa pun harganya. Orang tua pun ikut terhanyut dalam perlombaan itu—bukan lagi sekadar mendidik, tetapi berlomba mengalahkan status sosial.
Akhirnya pendidikan berubah menjadi medan pertarungan. Uang keluar tanpa hitungan, “jalur belakang” dianggap lumrah, suap dibungkus rapi dengan alasan “demi masa depan anak”. Semua seolah sah, selama tujuannya satu: lolos, dapat ijazah, dan terlihat berhasil.
Namun setelah semua perjuangan itu selesai, kenyataan justru menampar keras. Ribuan lulusan setiap tahun hanya menjadi angka statistik pengangguran. Gelar sarjana tidak lagi menjamin apa-apa. Banyak yang akhirnya turun kelas menjadi buruh pabrik, pekerja serabutan, driver ojol, kurir, atau bahkan tidak memiliki pekerjaan sama sekali.
Pendidikan tinggi berubah menjadi formalitas mahal yang tidak selalu punya nilai ekonomi nyata.
Di saat yang sama, kelompok yang disebut “borjuis” atau pemilik modal besar melangkah dengan sangat tenang. Mereka tidak perlu berebut kursi dengan cara kotor. Mereka sudah menyiapkan jalur sejak awal: sekolah internasional, bimbingan elit, jaringan kuat, dan akses ke institusi kedinasan seperti AKMIL, AKPOL, IPDN, atau posisi strategis di perusahaan besar. Masa depan mereka bukan dipertaruhkan—tetapi direncanakan dan diamankan sejak awal.
Inilah ironi yang menyakitkan: pendidikan yang katanya alat pemerataan justru sering menjadi mesin reproduksi ketimpangan. Yang kaya semakin terstruktur masa depannya, yang miskin semakin dipaksa percaya bahwa usaha akan mengubah nasib, meskipun sistemnya sendiri tidak seimbang.
Lebih parah lagi, rakyat kecil sering dijadikan pasar abadi industri pendidikan. Atas nama ilmu untuk masa depan, biaya terus naik, persaingan makin tidak manusiawi, dan tekanan psikologis semakin besar. Sementara itu, hasil akhirnya tetap sama: banyak yang tersingkir, banyak yang gagal, dan hanya sedikit yang benar-benar naik kelas sosial.
Maka jangan heran jika kepercayaan terhadap pendidikan mulai retak. Ketika ijazah tidak lagi menjamin pekerjaan, ketika gelar tidak lagi berarti kesejahteraan, maka yang tersisa hanyalah satu pertanyaan pahit: sebenarnya pendidikan ini memajukan siapa?
Jika sistem terus dibiarkan seperti ini, maka pendidikan hanya akan menjadi etalase harapan palsu—indah di slogan, tetapi rapuh di kenyataan. Dan rakyat kecil akan terus menjadi bahan bakar dari mesin besar bernama industri pendidikan, tanpa pernah benar-benar merasakan hasil yang dijanjikan.








