CERPEN : KARYA BANA SOPANDI

Aphe dan Kaos “Lieur”

Aphe berdiri di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, membiarkan dinginnya malam menusuk kulit. Badannya tinggi dan kurus, seperti ranting pohon yang enggan digugurkan angin. Di balik punggungnya, tembok kumuh sebuah gang sempit terasa dingin. Ia mengenakan kaos oblong berwarna pudar yang sudah bolong kecil di sana-sini. Tepat di dadanya, terpampang satu kata yang merangkum seluruh perasaannya malam itu: “LIEUR” – bahasa Sunda untuk ‘pusing’ atau ‘bingung’.
Kancing saku celana kerjanya terasa kosong. Ia telah menghabiskan dua belas jam terakhirnya di tempat pengadukan semen, memanggul bata, dan mengangkut pasir, di bawah terik matahari dan makian mandor. Tapi hari ini, seperti beberapa hari sebelumnya, upahnya hanya cukup untuk sebungkus nasi dan sebatang rokok kretek, dan itu pun sudah lenyap di perutnya. Ia tidak membawa hasil apa-apa untuk dibawa pulang.
Sebelas langkah di depannya adalah perempatan jalan. Jika ia berbelok ke kiri, ia akan sampai di jalan utama menuju kontrakannya.

Pulang.
Kata itu seharusnya terdengar menenangkan. Namun, bagi Aphe, kata itu seperti bel alarm yang siap membangunkannya dari kedamaian singkat.
Ia membayangkan istrinya, Wati. Wati akan duduk di kursi plastik, matanya yang lelah namun tajam akan langsung menyisir Aphe dari ujung rambut sampai ke kaos “Lieur”-nya.

“Mana?” Itu pertanyaan pertama Wati, tanpa basa-basi.

“Belum ada, Bu. Masih ditahan mandor,” jawab Aphe, klise yang sudah basi.
Maka, amukan itu akan datang. Bukan teriakan histeris, tapi suara yang rendah dan menusuk, penuh kepahitan hidup.

“‘Ditahan’? Sejak kapan hasil kerja seharianmu itu bisa ‘ditahan’? Kamu pikir anak kita bisa makan pakai janji? Kamu itu kerja atau cuma main-main saja, Phe? Bilang! Kalau begini terus, lebih baik kamu tidak usah pulang sekalian!”

Paragraf terakhir itu selalu menjadi penutup. Sebuah ultimatum. Dan setiap kali Aphe mendengarnya, hatinya menciut hingga terasa sekecil kerikil. Ia tahu Wati lelah. Ia tahu Wati tidak jahat. Wati hanya seorang ibu yang panik melihat dapur mereka kosong dan anak mereka sakit-sakitan. Aphe hanya benci karena ia adalah sumber kepanikan itu.

Aphe menyalakan rokok terakhirnya. Asap mengepul, menutupi sebagian tulisan “LIEUR” di dadanya.

Ia melirik ke kanan. Jalanan itu lebih gelap, menuju ke warung kopi milik Mang Udin. Di sana, setidaknya ada obrolan receh, kopi pahit, dan janji kosong dari teman-teman senasib. Di sana, ia bisa menjadi Aphe yang tidak perlu dimintai pertanggungjawaban. Ia bisa menunda datangnya amukan itu, menunda pengakuan pahit bahwa ia telah gagal lagi hari ini.

Tarikannya pada rokok itu dalam. Ia menghirupnya seolah-olah menghirup oksigen cadangan untuk menghadapi badai.

Pulang (Kiri): Amukan dan Rasa Bersalah.
Menunda (Kanan): Ketenangan Semu dan Penundaan Masalah.

Rokoknya tinggal sepertiga. Aphe harus memilih sebelum puntung itu habis. Ia melihat pantulan dirinya di jendela toko yang tutup: sosok kurus dengan kaos yang menjeritkan kebingungan.
Tiba-tiba, ponsel bututnya bergetar. Pesan dari Wati.

“Pulang sekarang, Phe. Nggak usah bawa apa-apa. Nasi ada sisa sedikit. Cuma mau bilang, si Udin, anak mandor yang kerja sama kamu, tadi sore dia lewat. Dia cerita, kamu yang paling giat angkat sak semen hari ini.”

Aphe tertegun. Ia mematikan rokoknya di aspal. Amukan itu mungkin masih ada, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sedikit pengakuan dalam kata-kata Wati.

Mungkin, pulang hari ini bukan lagi soal membawa uang, melainkan soal membawa diri, yang meski lelah dan kosong, telah diakui jerih payahnya.
Aphe mengambil napas panjang. Kaos “Lieur” itu terasa tidak lagi menempel terlalu erat.

Ia berbalik, berbelok ke kiri. Ia memilih jalan yang penuh amukan, karena di ujung jalan itu, ada rumah yang meskipun tidak sempurna, adalah tempatnya berada.