Buletin Jum’at
Oleh: Bana Sopandi
Pembaca yang dirahmati Allah SWT,
Sebagai manusia ciptaan Allah SWT, kita memiliki kewajiban untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam ajaran Islam, terdapat dua tugas ibadah yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, yaitu Habluminallāh dan Habluminannās.
1. Habluminallāh (Hubungan dengan Allah SWT)
Habluminallāh adalah hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sebagai bentuk penyembahan dan penghambaan. Ibadah ini diwujudkan melalui shalat, zakat, puasa, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Allah SWT berfirman:
> وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat ini menegaskan kewajiban ibadah ritual sebagai pondasi keimanan seorang Muslim.
2. Habluminannās (Hubungan dengan Sesama Manusia)
Habluminannās adalah hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya. Ibadah ini tidak kalah pentingnya, bahkan menjadi cerminan keabsahan ibadah kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
> وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh…”
(QS. An-Nisā’: 36)
Namun, sering kali manusia tertipu oleh ibadah ritual semata—merasa cukup dengan shalat dan dzikir—padahal perilaku sosialnya masih jauh dari nilai-nilai Islam: tidak berbakti kepada orang tua, tidak rukun dengan saudara, bermusuhan dengan tetangga, ucapannya menyakiti orang lain, serta sikapnya merendahkan sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, dan berkata kasar.”
(HR. Tirmidzi, No. 1977)
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa rusaknya hubungan sosial dapat menggugurkan nilai ibadah:
> أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak punya harta.”
Beliau bersabda,
“Orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat, namun ia mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi…”
(HR. Muslim, No. 2581)
Qaul Ulama
Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:
> الدِّينُ مُعَامَلَةٌ
“Agama itu adalah akhlak dan muamalah (hubungan sosial).”
(Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, Juz 2)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رحمه الله juga menegaskan:
> “Agama seluruhnya adalah akhlak. Barang siapa melebihi engkau dalam akhlaknya, maka ia melebihi engkau dalam agamanya.”
(Madarij as-Salikin)
Penutup
Maka janganlah kita merasa diri paling dekat dengan Allah SWT, bahkan dengan nada lantang mengaku berjuang atas nama Allah, sementara dalam kehidupan sehari-hari justru dipenuhi kebencian kepada orang tua, ketidakrukunan dengan saudara dan tetangga, tidak menghargai teman, serta tutur kata dan perbuatan yang menyakiti orang lain.
Karena ibadah yang benar kepada Allah SWT pasti melahirkan akhlak yang mulia kepada sesama manusia.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang seimbang antara Habluminallāh dan Habluminannās, serta diterima seluruh amal ibadah kita. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.







