Lebih dari Sekadar Bazar, “Pasar Hejo” 2026 Jadi Episentrum Gerakan Hijau di Bandung Barat

​PADALARANG – Kawasan Bumi Hejo, Kota Baru Parahyangan, mendadak berubah menjadi lautan edukasi ekologi pada Sabtu (25/4/2026). Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, gelaran Pasar Hejo kembali hadir bukan sekadar sebagai pasar tematik, melainkan sebagai manifesto gerakan pelestarian alam bagi warga Kabupaten Bandung Barat (KBB).

​Dengan semboyan puitis khas Sunda, “Ti Bumi Hejo keur ngahejokeun bumi” (Dari Bumi Hijau untuk menghijaukan bumi), acara ini menjadi oase di tengah isu pemanasan global yang kian mendesak.

​Sinergi lintas Sektoral: Bukan Sekadar Seremoni
​Pembukaan acara berlangsung khidmat namun penuh semangat, dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci daerah. Tampak hadir Asisten
Perekonomian dan Pembangunan (Asda II) KBB, Achmad Fauzan Azima, didampingi Camat Padalarang, Hendi Setiyadi, serta Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, Zamilia Floreta.

​Dalam orasinya, Achmad Fauzan Azima menegaskan bahwa konsistensi selama lima tahun adalah pencapaian besar. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya ada pada perubahan perilaku pasca-acara.
​”Apresiasi tertinggi untuk Pasar Hejo. Tapi ingat, ini bukan sekadar ajang berkumpul setahun sekali. Kita butuh momentum ini untuk menyentuh kesadaran paling dalam dari setiap warga: sudahkah kita menjaga alam hari ini?” ujar Fauzan dengan nada persuasif.
​Mengubah Sampah Menjadi Emas Hitam dan Ekoenzim

​Di sudut lain, Sekretaris DLH KBB, Zamilia Floreta, menyoroti sisi teknis yang menjadi nyawa dari Pasar Hejo tahun ini. Fokus utamanya adalah kedaulatan pengolahan limbah dari level rumah tangga.

​Zamilia merinci bahwa edukasi kali ini mencakup spektrum yang luas:
​Restorasi Alam: Gerakan menanam pohon sebagai paru-paru kota.
​Manajemen Limbah: Teknik pemilahan sampah organik dan anorganik yang efektif.
​Hilirisasi Sampah: Mengolah sisa dapur menjadi pupuk kaya nutrisi hingga cairan ajaib multifungsi, ekoenzim.
​”Alhamdulillah, pembukaan berjalan mulus.

Harapan kami sederhana namun mendalam: masyarakat pulang dari sini membawa ilmu praktis. Bagaimana sampah tidak lagi berakhir di TPA, tapi berakhir di pot tanaman atau diolah menjadi produk bermanfaat,” tutur Zamilia.
​Kolaborasi Akar Rumput

​Selama dua hari penyelenggaraan, Pasar Hejo menjadi titik temu bagi berbagai elemen masyarakat. Mulai dari komunitas pegiat lingkungan, pengelola Bank Sampah, hingga garda terdepan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) saling berbagi inovasi.
​Antusiasme warga yang membludak menunjukkan bahwa kesadaran ekologis di Bandung Barat mulai naik kelas. Tidak hanya menjadi penonton, pengunjung terlihat aktif berdiskusi di stan-stan komunitas, menandakan bahwa isu lingkungan kini telah menjadi gaya hidup, bukan lagi beban.

​Pihak penyelenggara berharap, gema dari Bumi Hejo ini dapat terus beresonansi sepanjang tahun, menjadikan Kabupaten Bandung Barat sebagai pionir daerah hijau yang berkelanjutan di Jawa Barat.***

TJANDRA