Bukan Sekadar Coblos, KPU KBB Bidik Lahirnya ‘Pemilih Berakal’ untuk Pemilu 2029
LEMBANG, KBB – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai memanaskan mesin demokrasi jauh sebelum gong Pemilu 2029 berbunyi. Bertempat di kawasan sejuk Lembang, Selasa (28/04/2026),
KPU KBB menggelar akselerasi pendidikan politik yang secara spesifik membidik kelompok civil society (masyarakat sipil).
Langkah ini bukan sekadar rutinitas formalitas. KPU KBB sedang berupaya menggeser paradigma: dari sekadar mengejar angka kehadiran, menjadi pengejaran kualitas pilihan.
Ketua KPU KBB, Ripqi Ahmad Sulaeman, mengungkapkan bahwa agenda ini merupakan pengejawantahan dari instruksi KPU RI yang menetapkan dua pilar prioritas nasional: Pendidikan Pemilih dan Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB).
”Hari ini fokus kami adalah bedah politik bagi segmen masyarakat sipil. Kami ingin membangun pondasi yang kuat melalui pendidikan pemilih yang tersegmentasi,” ujar Ripqi saat ditemui di lokasi kegiatan.
Melampaui Rekor 84 Persen
Pada kontestasi sebelumnya, Bandung Barat mencatatkan raport yang impresif dengan tingkat partisipasi pemilih menyentuh angka 84%. Meski secara kuantitas angka ini tergolong tinggi,
Ripqi menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya ada pada aspek kualitatif.
Menurutnya, target KPU ke depan tidak hanya mempertahankan kerumunan di Tempat Pemungutan Suara (TPS), tetapi memastikan setiap suara yang masuk didasari oleh nalar yang sehat.
Target Utama Sosialisasi KPU KBB:
Mengubah pemilih emosional menjadi pemilih rasional.
Partisipasi Aktif: Mempertahankan sekaligus meningkatkan angka partisipasi di atas 84%.
Memperkuat pemilih agar tidak goyah oleh pengaruh luar yang non-substansial.
Definisi ‘Pemilih Cerdas’ Versi KPU
Dalam narasinya, Ripqi secara lugas membedah kriteria pemilih berkualitas yang diinginkan negara. Ia menekankan bahwa suara hati nurani dan telaah program kerja harus menjadi panglima dalam menentukan pilihan, bukan faktor-faktor pragmatis sesaat.
”Pemilih yang cerdas itu adalah mereka yang datang ke TPS dengan persiapan. Mereka sudah mengantongi visi-misi calon, memahami program kerja yang ditawarkan, dan yang terpenting, memilih berdasarkan suara hati nurani sendiri tanpa intervensi,” tegasnya.
Melalui edukasi intensif ini, KPU KBB berharap civil society mampu menjadi lokomotif yang menggerakkan masyarakat luas untuk lebih bijak dan dewasa dalam berdemokrasi pada 2029 mendatang.***
*Tjandra*








