
👻 Pertemuan di Tengah Keheningan Malam, Ketemu Hantu Di dalam rumah Tua
Sebuah rumah tua bergaya kolonial di pinggiran kota, dikenal angker karena tragedi masa lalu. Malam itu, hujan deras mengguyur, listrik padam, meninggalkan rumah dalam kegelapan total, hanya diterangi sesekali kilat.
Rian, seorang mahasiswa pemberani (atau setidaknya, ia selalu menganggap dirinya begitu) yang memutuskan menginap sendirian di rumah warisan kakeknya itu untuk membuktikan bahwa semua cerita hantu hanyalah bualan.
Rian tiba menjelang maghrib. Ia sengaja menolak membawa lilin, hanya mengandalkan senter ponsel. Sejak langkah pertamanya di beranda kayu yang reyot, ia sudah merasakan udara yang berat dan dingin yang aneh, padahal hari masih sore.
-
Pukul 22.00: Hujan mulai deras. Rian mencoba tidur di kamar utama, namun suara-suara aneh mulai terdengar. Bukan suara tetesan air, tapi seperti gesekan kain sutra tua yang diseret di lantai atas.
-
Pukul 23.30: Tiba-tiba, listrik padam. Kegelapan total menyergap. Rian menyalakan senter. Saat ia menyinari lorong, ia melihat bayangan hitam melintas sangat cepat di ujung lorong, terlalu besar untuk seekor kucing.
Rian mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya halusinasi. Ia memutuskan turun ke lantai bawah untuk mencari selimut tebal di gudang belakang.
-
Saat melewati ruang makan, ia mencium aroma melati yang menyengat, padahal tidak ada bunga di sana.
-
Tepat saat ia hendak meraih kenop pintu gudang, ia mendengar bisikan, sangat dekat di telinganya. “Jangan pergi, Nak…” Suara itu serak, parau, dan dingin seperti es. Rian membeku di tempat. Ia merasakan napas dingin menyentuh tengkuknya.
Rian dengan panik berbalik dan menyorotkan senternya.
-
Di hadapannya, berdiri sosok wanita dengan gaun putih lusuh yang basah kuyup. Wajahnya… kosong. Matanya hanya cekungan gelap yang tak berbola, dan senyumnya… senyum itu ditarik terlalu lebar hingga mencapai hampir ke telinga, menampakkan deretan gigi yang tidak normal.
-
Yang paling mengerikan, wanita itu tidak berdiri di lantai. Kakinya terangkat sekitar satu jengkal dari lantai. Ia melayang
Rian menjerit dan lari menaiki tangga. Ia mendengar suara bisikan dingin itu berubah menjadi tawa melengking yang memenuhi rumah.
-
Saat Rian mencapai anak tangga kelima, ia merasakan sesuatu menarik pergelangan kakinya dengan cengkeraman yang sangat kuat dan dingin. Ia jatuh.
-
Senter ponselnya terlempar dan cahayanya bergulir, berhenti di dekat kaki patung kakeknya. Dalam sorotan cahaya remang-remang itu, Rian melihatnya. Wanita bergaun putih itu kini merangkak naik tangga dengan kecepatan abnormal, bergerak seperti serangga besar.
Rian berhasil merangkak ke lantai atas dan bersembunyi di dalam lemari tua di kamar tidur utama. Ia menahan napas, tubuhnya gemetar tak terkendali.
-
Suara gesekan kain basah di lantai semakin mendekat. Tawa melengking itu kini terdengar tepat di luar lemari.
-
Hening. Beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
-
Tiba-tiba, kenop lemari berputar perlahan.
-
Sebuah jari pucat dan panjang menyelinap melalui celah pintu lemari. Jari itu menunjuk tepat ke mata Rian.
-
Lalu, suara bisikan itu terdengar lagi, tapi kali ini penuh kemenangan, “Aku menemukanmu… dan kau akan tetap di sini, bersamaku. SELAMANYA.”
-
Pintu lemari terbuka dengan sentakan keras, dan yang terakhir terlihat sebelum layar menjadi gelap adalah wajah wanita tanpa mata itu, kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Rian, dan senyumnya… semakin lebar, semakin lebar
Keesokan paginya, rumah itu ditemukan kosong. Ponsel Rian tergeletak di lantai, layarnya retak, menampilkan sebuah foto yang tak sengaja terekam: gelap gulita, namun di tengah kegelapan itu, dua cekungan hitam menatap lurus ke kamera. Rian tidak pernah ditemukan.







