*Isra Mi’raj Nabi SAW dan Toleransi Beragama*
Oleh: Bana Sopandi
*Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.*
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
*Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu mukjizat agung Nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa ini, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu, sebagai bentuk hubungan langsung antara hamba dengan Allah SWT. Allah berfirman:*
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
“Dan dirikanlah shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)
*Shalat bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian seorang muslim. Shalat yang benar akan melahirkan sikap rendah hati, sabar, dan penuh kasih sayang kepada sesama manusia.*
Dalam konteks kehidupan bermasyarakat yang majemuk, *nilai Isra Mi’raj juga mengajarkan kita tentang toleransi beragama.* Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kedamaian dan menghormati perbedaan. Allah SWT berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
*“Tidak ada paksaan dalam beragama.”*
(QS. Al-Baqarah: 256)
Rasulullah SAW sendiri telah memberi teladan nyata dalam bersikap toleran. *Beliau hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain, menjaga hak-hak mereka, serta menegakkan keadilan tanpa membedakan keyakinan*. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
*“Barang siapa menyakiti dzimmi (non-muslim yang hidup berdampingan secara damai), maka aku menjadi lawannya pada hari kiamat.”*
(HR. Abu Dawud)
*Oleh karena itu, memperingati Isra Mi’raj hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas shalat sekaligus memperkuat sikap toleran, saling menghormati, dan menjaga persatuan bangsa.*
Semoga dengan meneladani Nabi Muhammad SAW, kita mampu menjadi muslim yang taat beribadah, berakhlakul karimah, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.








