Pemkab Bandung Tekankan Kualitas Jadi Kunci Sukses Program Makan Bergizi Gratis
Kab. Bandung, Rois7.com. – Pemerintah Kabupaten Bandung menegaskan, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya dilihat dari jumlah dapur yang beroperasi atau banyaknya penerima manfaat. Faktor utama yang ditekankan adalah kualitas penyelenggaraan, keamanan pangan, dan kekompakan semua pihak yang terlibat.
Hal itu disampaikan Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, saat membuka Rapat Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan Program MBG di Gedung Moh. Toha, Soreang, Selasa (28/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ali mengapresiasi dukungan Forkopimda, kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra, dan seluruh pihak yang telah menjalankan program strategis nasional ini.
Menurutnya, MBG adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi emas.
“Kalau kita ingin siap menuju Indonesia Emas 2045, maka yang harus dipersiapkan dari sekarang adalah kualitas sumber daya manusianya. Program MBG menjadi salah satu ikhtiar untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Ali.
Lebih dari sekadar pemenuhan gizi, Wabup menyebut MBG juga punya dampak ekonomi yang besar. Di Kabupaten Bandung terdapat sekitar 550 titik dapur SPPG yang sudah dan akan beroperasi. Dengan kebutuhan 50 tenaga kerja di tiap dapur, program ini diprediksi mampu membuka lebih dari 22 ribu lapangan pekerjaan.
“Program ini bukan sekadar memberi makan. Ada multiplier effect yang sangat besar, mulai dari terbukanya lapangan kerja hingga bergeraknya roda perekonomian masyarakat,” katanya.
Saat ini Kabupaten Bandung memiliki sekitar 1,25 juta penerima manfaat MBG, mulai dari peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita. Dengan cakupan sebesar itu, Ali meyakini program ini akan membantu mempercepat penurunan angka stunting melalui pemenuhan gizi yang lebih baik.
Meski cakupannya luas, Ali mengingatkan kualitas harus tetap nomor satu. Ia meminta seluruh kepala SPPG dan mitra menjadikan kebersihan, keamanan pangan, dan higienitas dapur sebagai prioritas.
“Bagus itu tidak harus mewah. Yang terpenting bersih, rapi, steril, dan higienis. Kualitas harus menjadi perhatian utama agar masyarakat benar-benar menerima manfaat dari program ini,” tegasnya.
Untuk menjaga keamanan pangan, Ali mendorong adanya inovasi sederhana dalam distribusi. Misalnya penggunaan segel pada wadah makanan dan pemberian petunjuk penanganan makanan.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi antar kepala SPPG, mitra, koordinator wilayah, camat, hingga Satgas Percepatan MBG. Ego sektoral harus ditinggalkan.
“Program sebesar ini tidak bisa dijalankan sendiri-sendiri. Kuncinya adalah komunikasi, koordinasi, dan saling mendukung agar setiap kendala bisa segera diatasi,” ujarnya.
Selain itu, Ali mengajak agar bahan pangan untuk MBG diutamakan dari UMKM, petani, peternak, dan produsen lokal. Dengan begitu manfaat program tidak hanya untuk gizi, tapi juga menggerakkan ekonomi daerah.
Di akhir arahannya, Ali menegaskan rakor ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Hasil pembahasan harus ditindaklanjuti dengan penguatan koordinasi, peningkatan kualitas layanan, dan evaluasi berkelanjutan.
Rakor ditutup dengan komitmen bersama Pemda, Forkopimda, kepala SPPG, dan mitra untuk mendukung pelaksanaan MBG sesuai tugas masing-masing, meningkatkan koordinasi, serta melakukan pemantauan agar program berjalan aman, berkualitas, dan tepat sasaran.
—







