Janji Flyover Cimareme Tak Kunjung Nyata, Jawara: Masyarakat KBB Hanya Diberi Harapan
Bandung Barat Rois7
Rencana pembangunan jalan layang atau Flyover Cimareme di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali menuai polemik. Masyarakat mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam merealisasikan proyek yang digadang-gadang menjadi solusi kemacetan parah di kawasan tersebut.senin 22/12
Ketua Jaringan Wahana Rakyat (Jawara), Chandra, angkat bicara mengenai keresahan warga. Menurutnya, pembangunan Flyover Cimareme sudah terlalu lama dijanjikan namun hingga kini belum ada tanda-tanda pengerjaan fisik di lapangan.
Kemacetan yang Kian Menahun
Kawasan Cimareme dikenal sebagai salah satu titik kemacetan paling krusial di KBB karena merupakan pertemuan arus kendaraan dari arah Padalarang, Batujajar, dan Cimahi, serta adanya perlintasan sebidang kereta api.
“Masyarakat Cimareme dan para pengguna jalan sudah sangat jenuh dengan kemacetan yang terjadi setiap hari. Pembangunan flyover ini sudah dijanjikan sejak lama, tapi sampai sekarang mana hasilnya? Jangan sampai ini hanya jadi komoditas janji manis belaka,” tegas Chandra kepada awak media.
Transparansi Anggaran dan Realisasi
Chandra menambahkan bahwa pihak Jawara terus memantau perkembangan rencana ini. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memberikan penjelasan transparan mengenai kendala yang dihadapi, apakah terkait pembebasan lahan atau anggaran.
“Kami dari Jawara menuntut kejelasan. Jika memang ada kendala teknis atau anggaran, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan masyarakat menunggu tanpa kepastian sementara setiap hari mereka harus tua di jalan karena macet,” lanjutnya.
Desakan kepada Bupati
Aspirasi masyarakat ini menjadi tantangan besar bagi Bupati Bandung Barat Jeje Richie Ismail Di tengah kekosongan beberapa jabatan kepala dinas strategis (seperti Dinas PUPR), proyek infrastruktur besar seperti Flyover Cimareme dikhawatirkan akan terus terbengkalai.
Jawara mengancam akan terus mengawal isu ini hingga ada langkah konkret dari pemerintah. “Kami tidak butuh seremoni atau sekadar rencana di atas kertas. Yang kami butuhkan adalah alat berat bekerja di lokasi dan kemacetan terurai,” pungkas Chandra.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menanti pernyataan resmi dari dinas terkait mengenai kepastian waktu groundbreaking proyek strategis tersebut.
( Olay )








