Perjuangan Bunga, PPPK Paruh Waktu KBB: Menyambung Hidup di Antara Gaji Pas-pasan dan Harapan Penuh Waktu

 

Bandung Barat Rois7

 

Setiap pagi sebelum matahari benar-benar terbit, Bunga sudah harus bersiap. Jarak dari rumahnya menuju kantor Pemkab Bandung Barat bukanlah jarak yang dekat. Deru mesin sepeda motor tua dan dinginnya angin pagi menjadi teman setianya membelah jalanan KBB. Namun, semangatnya setiap pagi selalu berbenturan dengan kenyataan pahit yang menunggunya di akhir bulan.

 

Sebagai seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, Bunga menerima honor yang jauh dari kata cukup. Lulusan SMA menerima sekitar Rp1.750.000 per bulan, sementara bagi yang mengantongi ijazah Sarjana (S1), angka itu hanya berada di kisaran Rp2.000.000.

 

Uang segitu, buat makan sebulan saja sudah megap-megap,” bisik Bunga mengelus dada.

 

Kalkulasi kehidupan sehari-hari bagaikan teka-teki yang tak pernah selesai. Gaji yang belum genap dua juta rupiah itu harus dibagi untuk kebutuhan dapur, membeli bensin motor karena jarak kantor dan rumah yang jauh, hingga uang saku anak yang masih bersekolah. Sering kali sebelum pertengahan bulan, dompetnya sudah tak menampung apa-apa selain struk belanjaan dan selip rasa cemas.

 

Suatu hari, terbawa desakan kebutuhan hidup yang kian menjepit, Bunga memberanikan diri mendatangi sebuah bank. Niatnya sederhana: mengajukan pinjaman kecil untuk menutup celah kebutuhan harian dan modal usaha sampingan. Namun, kenyataan tak seindah harapan. Permohonannya ditolak mentah-mentah tanpa alasan yang jelas.

 

“Saya tidak tahu pasti kenapa tidak di-ACC. Mungkin karena status kami yang cuma ‘paruh waktu’ ini,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Langkah kaki Bunga kembali berat saat harus kembali bekerja di sebelah rekan-rekannya yang berstatus PPPK Penuh Waktu. Pemandangan kontras itu terasa begitu nyata.

 

PPPK Penuh Waktu menikmati hak dan fasilitas yang setara dengan PNS—mendapatkan gaji utuh serta berbagai tunjangan yang menjamin kesejahteraan hidup mereka. Sementara Bunga dan rekan-rekan paruh waktu lainnya harus puas menanggung beban kerja yang sering kali sama beratnya, namun dengan hak yang jauh berbeda.

 

Di balik seragam yang dikenakannya setiap hari, ada jeritan hati yang ingin didengar oleh pimpinan tertinggi di daerahnya. Bunga mewakili suara ribuan pegawai paruh waktu lainnya yang merindukan keadilan dan kepastian masa depan.

 

“Tolong, Pak Bupati, perhatikan nasib kami. Jangan biarkan kami terus-menerus berstatus paruh waktu. Kami bekerja sepenuh hati, maka kami memohon dengan sangat, naikkan status kami menjadi PPPK Penuh Waktu,” tutur Bunga penuh harap.

 

Bagi Bunga dan kawan-kawan seperjuangannya di KBB, kenaikan status bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan soal kelangsungan hidup, dapur yang tetap ngebul, dan senyum anak-anak mereka saat pergi ke sekolah.