Gema Sengkuni di Lorong Kantor
Oleh: Didik
Di dunia pewayangan, ia adalah Harya Suman, lelaki tampan yang berubah menjadi Sengkuni yang bungkuk dan pincang karena dendam dan skenario hidup yang pahit. Namun, di lantai 15 gedung perkantoran Jakarta ini, Sengkuni tidak memakai kain batik atau membawa aroma kemenyan. Ia memakai kemeja slim-fit mahal, menyandang gelar manajer, dan memiliki senyum yang paling ramah di antara semua rekan kerja.
Sengkuni modern tidak lagi mengadu domba lewat permainan dadu yang kasar. Ia bermain dengan “bisikan halus” di meja makan siang.
Sengkuni dalam kehidupan kita hari ini adalah sang maestro retorika. Ia tahu persis kapan harus memuji prestasi rekan kerjanya di depan bos, hanya untuk menyelipkan satu kalimat “kekhawatiran” yang menghancurkan reputasi rekan tersebut secara perlahan:
“Dia hebat sekali mengerjakan proyek itu, Pak. Sayang, saya dengar dia sedang cari-cari lowongan di perusahaan kompetitor, jadi mungkin fokusnya agak terbagi.”
Satu kalimat, satu dadu dilempar, dan satu kerajaan (karir seseorang) mulai goyah.
Mengapa Sengkuni Ada di Sekitar Kita?
Kita sering mengutuk Sengkuni, tapi jarang menyadari bahwa ia bertahan hidup karena kita memberinya ruang. Sengkuni dalam narasi kehidupan kita adalah perwujudan dari:
Ambisi Tanpa Empati: Baginya, hidup adalah zero-sum game. Jika kau menang, berarti aku kalah.
Dendam yang Terawat: Seperti Sengkuni yang dikurung di bawah tanah oleh Pandu, Sengkuni modern lahir dari rasa sakit hati masa lalu yang tidak pernah selesai.
Manipulasi Informasi: Ia adalah algoritma berjalan yang hanya menyaring berita untuk keuntungan golongannya.
Sengkuni tidak bisa dilawan dengan amarah, karena amarah adalah bensin bagi apinya. Ia hanya bisa dikalahkan dengan transparansi. Di Kurukshetra modern, kejujuran adalah senjata paling mematikan bagi mereka yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang informasi yang diputarbalikkan.
Namun, bagian paling mengerikan dari narasi ini bukanlah Sengkuni yang ada di meja sebelah. Bagian paling mengerikan adalah ketika kita bercermin, dan menyadari bahwa demi posisi atau rasa aman, kita sesekali meminjam lidah Sengkuni untuk menyelamatkan diri sendiri.
Sengkuni bukan sekadar tokoh; ia adalah sebuah pilihan. Di setiap keputusan yang kita ambil, apakah kita sedang membangun jembatan, atau sedang menyiapkan dadu untuk menjatuhkan lawan?








