Candra, Sang Penunggu Bukit Koncleng
Cerita kita Penulis : Bana Sopandi
Makam Eyang Koncleng tidak terletak di sembarang tempat. Ia bersemayam di puncak tertinggi Bukit Koncleng, sebuah tempat yang diselimuti kabut tipis abadi dan aroma kemenyan yang samar. Pemandangan dari sini memang menakjubkan, namun aura mistisnya jauh lebih kuat daripada keelokan alamnya.
Penjaga makam keramat ini adalah Candra, seorang pria berperawakan kurus, matanya cekung, namun tatapannya tajam seperti elang. Candra adalah murid tunggal dari Eyang Kencot, seorang guru spiritual yang konon memiliki ilmu ‘mengobati kantong kosong’. Sejak Eyang Kencot moksa,
Candra-lah yang melanjutkan tugas menjaga Makam Koncleng, dan yang lebih penting, menjadi perantara bagi para pencari ‘jalan pintas rezeki’.
Candra tidak banyak bicara. Setiap peziarah yang datang harus menyampaikan maksudnya dengan jelas dan, tentu saja, dengan ‘mahar’ yang sesuai. Ia akan duduk bersila di bale bambu kecil, di samping pintu masuk makam yang dijaga dua pohon beringin tua. Di depannya, selalu ada kotak kayu kusam tempat peziarah menaruh sesajen atau amplop berisi harapan dan uang.
Para peziarah yang datang memiliki satu tujuan utama: kekayaan mendadak, pelunasan utang secepat kilat, atau pangkat tinggi tanpa perlu bekerja keras.
Duo Langganan: Adi dan Jilun
Di antara banyak wajah yang berganti setiap malam Jumat Kliwon, ada dua sosok yang paling sering terlihat:
Adi: Seorang makelar tanah gagal yang punya mimpi ingin menjadi juragan properti se-Jawa. Dia selalu membawa minyak wangi berbau aneh dan selalu meminta nomor ‘hoki’ untuk investasi dadakan. Setiap gagal, dia akan kembali dengan wajah lebih muram dan mahar yang lebih kecil, mencoba meyakinkan Candra bahwa “kali ini pasti tembus.”
Jilun: Pemilik warung kelontong kecil yang terlilit utang rentenir. Jilun adalah tipe yang putus asa namun penakut. Dia akan gemetar setiap kali harus menyalakan dupa dan selalu mengeluh tentang harga beras yang naik. Permintaannya sederhana: uang tunai sebesar X juta untuk melunasi utangnya.
Candra hanya akan mendengarkan tanpa emosi.
Kadang ia akan mengangguk, kadang ia hanya akan menunjuk ke arah makam dengan tongkatnya, isyarat untuk memulai ritual. Ia tahu, Makam Koncleng hanya memberi petunjuk, bukan uang tunai. Rezeki adalah hasil perpaduan usaha dan keberanian, bukan sekadar mantra. Tapi, ia biarkan Adi dan Jilun, serta peziarah lain, tenggelam dalam harapan mereka, karena harapan, bagaimanapun juga, adalah modal utama mereka untuk naik ke bukit itu.
Cerita bersambung








