Antisipasi Krisis Pakan di Puncak Kemarau, Disnakan KBB Dorong Peternak Olah Silase dan Hay Sejak Dini
BANDUNG BARAT – Menyikapi penurunan drastis ketersediaan hijauan segar akibat musim kemarau yang mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026, Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat menggalakkan strategi ketahanan pakan jangka panjang. Kepala Disnakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., menegaskan bahwa solusi tidak hanya terletak pada pencarian rumput, tetapi pada pengelolaan cadangan pakan awetan.

“Persoalan utama saat ini bukan sekadar kuantitas, melainkan kualitas nutrisi. Hijauan yang tumbuh di kondisi kekeringan atau sudah tua memiliki nilai gizi yang jauh lebih rendah dibandingkan rumput segar optimal. Oleh karena itu, kami mendorong peternak untuk tidak reaktif, melainkan proaktif dengan membuat silase atau hay,” ujar Wiwin dalam keterangan resminya, Rabu (24/9/2026).
Kelangkaan pakan telah memicu kenaikan harga di pasar lokal. Data lapangan menunjukkan adanya kenaikan harga tebon jagung dari Rp800 menjadi Rp900 per kilogram, serta odot dari Rp750 menjadi Rp900 per kilogram. Kenaikan ini terjadi meski pasokan tidak sepenuhnya terjamin, karena produsen rumput juga mengalami gagal panen.
Sebagai respons, banyak peternak ruminansia—yang mencakup populasi sapi perah sebanyak 26.717 ekor dan domba sebanyak 184.123 ekor di KBB—mulai beralih ke sumber pakan alternatif. Jerami padi kering, ampas tahu, limbah agroindustri, dan konsentrat protein tinggi kini menjadi komponen utama campuran pakan. Namun, Wiwin mengingatkan bahwa adaptasi ini meningkatkan biaya operasional dan berisiko menekan margin keuntungan jika tidak dikelola dengan efisiensi tinggi.
Realitas di lapangan terlihat jelas pada Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Dengan populasi 70 ekor sapi perah, kelompok ini mencatat produktivitas kebun rumput mereka anjlok hingga 70 persen (hanya tersisa 30 persen) dibandingkan masa hujan. Untuk produksi susu dan kesehatan ternak, mereka terpaksa membeli jerami dan mencari rumput hingga ke wilayah Subang dan Purwakarta, sebuah langkah yang menambah beban logistik dan biaya.
Menyadari tantangan tersebut, Disnakan KBB melalui UPTD dan Balai Penyuluhan Pertanian telah memperkuat pemantauan lapangan. Fokus utama pengawasan adalah deteksi dini kekurangan pakan agar intervensi dapat dilakukan sebelum kondisi kritis melanda ternak.
Wiwin Aprianti merinci lima imbauan kunci bagi seluruh peternak di Kabupaten Bandung Barat:
1. Segera Siapkan Cadangan: Jangan menunggu stok habis. Manfaatkan momen saat bahan baku masih tersedia untuk diolah.
2. Teknologi Pengawetan: Terapkan pembuatan silase (fermentasi) atau hay (pengeringan) agar pakan tahan lama dan nutrisinya terjaga.
3. Ketersediaan Air: Pastikan akses air minum ternak tetap lancar, terutama mengingat suhu lingkungan yang tinggi.
4. Monitoring Kesehatan: Pantau kondisi tubuh dan produktivitas ternak secara berkala untuk mendeteksi tanda-tanda stres atau malnutrisi.
5. Komunikasi Aktif: Segera hubungi penyuluh pertanian atau petugas dinas setempat jika mengalami kesulitan dalam pengadaan pakan.
Ke depannya, Pemkab Bandung Barat berencana membangun sistem ketahanan pakan yang lebih resilien, di mana cadangan pakan harus sudah tersedia sejak musim hujan, sehingga ketergantungan terhadap kondisi cuaca ekstrem di musim kemarau dapat diminimalisir.
*** Tjandraz ***








