Direktur RSUD Cililin dr. Hj. Neng Siti Djulaeha, Sp.PK. Tegaskan Komitmen Pelayanan Prima Tanpa Diskriminasi Untuk Semua Pasien Warga KBB

Kabupaten Bandung Barat Rois7

Di tengah ramainya keluhan masyarakat mengenai akses kesehatan di Kabupaten Bandung Barat, Direktur RSUD Cililin, dr Hj. Neng Siti Djulaeha, S.p. PK, meluruskan persepsi publik yang beredar di media sosial. Ia menegaskan bahwa RSUD Cililin bukan sekadar rumah sakit milik Kecamatan Cililin, melainkan fasilitas kesehatan rujukan utama yang melayani seluruh warga Kabupaten Bandung Barat tanpa terkecuali.

Pernyataan tegas ini disampaikan dr.Hj Neng Siti menyusul banyaknya pertanyaan dan keluhan dari warga kecamatan lain seperti Ngamprah, Padalarang, hingga Batujajar, yang merasa ragu apakah mereka akan dilayani dengan baik di RSUD Cililin mengingat jarak tempuh yang cukup jauh.

“Jangan Ragu, Pintu Kami Terbuka Lebar untuk Semua Warga KBB”

Dalam keterangannya kepada Rois7.com, dr. Hj Neng Siti menekankan bahwa visi pelayanan RSUD Cililin adalah inklusif dan berorientasi pada kebutuhan medis pasien, bukan berdasarkan domisili administratif.

“Saya ingin meluruskan pemahaman masyarakat. RSUD Cililin adalah rumah sakit daerah. Pasien kami datang dari berbagai penjuru Kabupaten Bandung Barat, bukan hanya dari Kecamatan Cililin saja. Mulai dari Cipatat, Cihampelas, Cikalongwetan, hingga wilayah selatan lainnya. Kami memberikan pelayanan terbaik bagi siapa saja yang membutuhkan, sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku,” ujar dr. Hj Neng Siti dengan tegas, Kamis (5/6/2026).

Ia menambahkan, meskipun secara geografis RSUD Cililin terletak di ujung barat kabupaten, komitmen manajemen rumah sakit adalah memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan medis yang cepat, tepat, dan humanis, terlepas dari asal kecamatan mereka.

Tantangan Geografis vs. Kualitas Layanan

dr. Hj Neng Siti mengakui bahwa tantangan terbesar bagi warga dari kecamatan timur atau utara adalah faktor jarak dan waktu tempuh. Namun, ia menjamin bahwa begitu pasien tiba di IGD atau poli rawat jalan, proses triase dan penanganan dilakukan secepat mungkin untuk meminimalisir risiko.

“Kami memahami kekhawatiran warga soal jarak. Oleh karena itu, kami terus berupaya meningkatkan efisiensi alur pelayanan. Petugas kami dilatih untuk sigap menangani kasus gawat darurat maupun rutin. Tidak ada diskriminasi dalam pelayanan. Yang kita utamakan adalah keselamatan nyawa dan kenyamanan pasien,” jelasnya.

Selain itu, dr. Hj Neng Siti juga mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan sistem rujukan berjenjang melalui Puskesmas setempat jika kondisi tidak bersifat darurat, agar beban antrian di RSUD dapat terkelola dengan lebih baik dan pasien mendapat prioritas yang tepat.

Apresiasi atas Transparansi Pimpinan RS

Langkah klarifikasi dari dr. Hj Neng Siti Djulaeha ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat dan aktivis kesehatan di KBB. Mereka menilai keterbukaan pimpinan RSUD Cililin penting untuk membangun kembali kepercayaan publik yang sempat goyah akibat isu-isu pelayanan yang kurang optimal sebelumnya.

“Ini sinyal positif. Ketika pimpinan RS mau bicara langsung dan meluruskan informasi, artinya ada kemauan untuk memperbaiki citra dan kualitas layanan. Kami harap pernyataan ini dibuktikan dengan tindakan nyata di lapangan: obat tersedia, dokter jaga, dan perawat ramah,” kata Agus, salah satu warga Batujajar yang pernah berobat di RSUD Cililin.

Harapan Ke Depan

RSUD Cililin berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi internal, peningkatan kapasitas tenaga medis, dan perbaikan fasilitas guna mengakomodasi lonjakan pasien dari seluruh wilayah KBB. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan percaya bahwa sistem kesehatan daerah bekerja untuk melayani mereka.

Bagi warga KBB yang mengalami kendala dalam mengakses layanan di RSUD Cililin, pihak manajemen membuka saluran pengaduan langsung melalui kontak resmi rumah sakit untuk ditindaklanjuti secara cepat.

(Red)