Klarifikasi Kepala Sekolah SMP PGRI Ngamprah Bandung Barat, Bantah Tuduhan Praktek Tak Profesional Gaji Guru Di Tahan.

Bandung Barat, Rois7

Di kabarkan Di sebuah Pemberitaan yang Viral di media sosial Sekolah SMP PGRI Ngamprah yang Berjudul ”
Delapan Guru Bongkar Praktek tak profesional kepala Sekolah, Hingga gaji di tahan hingga sentuhan tak etis

Menanggapi tuduhan tersebut Tedi cahyadiana S.E Sebagai kepala sekolah PGRI Ngamprah memberikan klarifikasi kepada awak media, Rabu 22/10/12

“Sehubungan dengan munculnya pemberitaan terkait dengan SMP PGRI Ngamprah, maka
dengan ini saya Kepala Sekolah Menengah Pertama PGRI Ngamprah dengan ini
menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
*1. Pembagian honor guru*
Perlu diketahui bersama bahwa pola pemberian honor di sekolah swasta kepada guru
dan pegawai dilaksanakan di akhir bulan atau awal bulan berikutnya, contoh untuk
pelaksanaan kewajiban mengajar bulan Januari, maka hak honorariumnya diberikan
pada awal bulan berikutnya yaitu bulan Februari. Keterlambatan pembayaran
honorarium mungkin terjadi, khususnya pada bulan Januari dan Juli, seiring dengan
turunnya dana BOS dari Kemeng dikdasmen yang biasanya baru diterima di rekening BOS
Sekolah pada minggu ke-2 atau ke-3 bulan Januari dan Juli.
Honorarium setiap guru berbeda-beda tergantung jumlah Jam Tatap Muka yang di input
berikut jabatan yang dibebankan kepada masing-masing guru.
Selanjutnya dapat kami jelaskan bahwa sampai saat ini, selama kepemimpinan saya, di
SMP PGRI Ngamprah belum pernah terjadi keterlambatan pembayaran honorarium
sampai 2 (dua) bulan atau lebih. Adapun keterlambatan sebagaimana dalam
pemberitaan dengan mensyaratkan terlebih dahulu harus menyelesaikan Administrasi
Guru, merupakan kebijakan yang wajar dan seharusnya seperti itu, sehingga ada
keseimbangan antara hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh masing-masing
pihak, selain juga untuk menumbuhkan profesionalisme guru terhadap beban kerja yang
di amanah kan “ujarnya”

Lebih lanjut, menanggapi Dugaan pelecehan verbal dan fisik*
Dalam salah satu kegiatan pembelajaran mata pelajaran Seni Teater di kelas yang
langsung disupervisi oleh saya sebagai Kepala Sekolah, ternyata respon yang
ditunjukkan siswa di kelas tersebut sangat kurang dan tidak menunjukkan kegairahan
siswa dalam mata pelajaran tersebut, sehingga setelah guru menerangkan materi dan
dianggap selesai, saya langsung memberikan evaluasi sesuai dengan tema pembelajaran,
yaltu konsentrasi, dengan mengajak supaya siswa sebagai penonton dalam suatu drama
bisa terbawa emosi dalam 3 (tiga) hal, yaitu: sedih, tertawa dan kaget
Saya memberikan arahan dan contoh kepada guru tersebut di depan siswa, terkait
bagamana caranya siswa untuk bisa tertawa, sedih dan kaget. Teknik “ice breaking”
digunakan dengan menggunakan satu buah ballpoin dengan metode sulap, dan anak
diminta untuk mengikutinya, tetapi mereka tidak mampu melakukannya, dan siswa
mentertawakan dirinya karena ketidakmampuannya mengikuti gerakan saya.
Pada poin supaya siswa tertawa, saya memberikan contoh yaitu dengan kembali
melakukan trik sulap, seolah-olah saya bisa mentransfer energi wewanglan, dengan
contoh obyeknya guru yang bersangkutan, dan memberikan sugesti seolah-olah guru
tersebut bisa menerima transfer energi pada tangan guru tersebut. Dan yang terjadi
memang tidak terjadi proses transfer energi tersebut, dan ketika guru tersebut mencium
tangannya ternyata tidak mencium wewangian yang berbeda dari sebelumnya.
Kemudian saya memegang tangan guru tersebut dan mencium tangannya, sehingga
kejadian tersebut menimbulkan gelak tawa para siswa.
Kejadian ini saya anggap sebagai salah satu contoh bagi guru ybs. cara melibatkan siswa
dalam proses pembelajaran.
Terkait dengan tuduhan adanya dugaan pelecehan verbal terhadap salah seorang guru
dengan mengatakan sebagai “wanita gatal” atau “bondon”, sama sekali saya tidak
pernah mengatakan itu, melainkan merupakan Bahasa mengingatkan yang
bersangkutan sebagai bentuk metode pembinaan secara pribadi terhadap guru tersebut”Tutupnya”

Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap masyarakat,khusus para orang tua murid dan para pengajar di SMP PGRI ngamprah,harus saya sampaikan bahwa tidak ada kejadian hal-hal yang negatip di sekolah kami,semua sesuai prosedur pendidikan yang ada.

Adapun terjadi hal-hal yang di anggap kurang pantas dan kurang etis,itu hanya miss komunikasi saja.

Selanjutnya kami sebagai kepala sekolah akan lebih profesional dan perhatian kepada para guru terkait gaji dan fasilitas yang di perlukan sebagai prioritas utama.

Team Redaksi