Banyak Sekolah di Bandung Barat Belum Tersentuh Program MBG, Ir. Apung Hadiat Purwoko M.Si Desak Pemerataan
BANDUNG BARAT ROIS7
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) dinilai masih belum merata. Hal ini diungkapkan oleh Ir. Apung Hadiat, M.S.I., Tokoh Masyarakat KBB yang menyoroti masih banyaknya sekolah di pelosok desa yang hingga kini belum merasakan manfaat dari program tersebut.Selasa ,03/02
Menurut Ir. Apung, meskipun pilot project dan tahap awal sudah mulai berjalan, distribusi di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup signifikan antar wilayah.
“Kami melihat masih banyak sekolah, terutama yang berada di wilayah pinggiran Kabupaten Bandung Barat, yang sama sekali belum mendapatkan alokasi program MBG ini. Padahal, kebutuhan asupan gizi untuk siswa di sana sangat mendesak demi menunjang kualitas belajar mereka,” ujar Ir. Apung Hadiat.
Faktor Kendala dan Sorotan Utama
Beberapa poin penting yang menjadi sorotan dalam keterlambatan distribusi MBG di Bandung Barat antara lain:
Aksesibilitas Geografis: Banyak sekolah berada di wilayah dengan medan yang sulit dijangkau, sehingga distribusi logistik makanan segar menjadi tantangan tersendiri.
Pendataan yang Belum Mutakhir: Perbedaan data jumlah siswa antara pusat dan daerah seringkali menyebabkan sekolah tertentu “terlewat” dalam daftar penerima.
Kesiapan Dapur Umum: Belum semua titik memiliki fasilitas dapur umum atau vendor penyedia yang mampu memenuhi standar gizi serta kuota yang dibutuhkan.
Ir. Apung menegaskan bahwa pemerintah daerah harus lebih proaktif dalam melakukan pengawasan dan koordinasi dengan pemerintah pusat agar kuota MBG untuk KBB bisa ditambah dan diratakan.
“Jangan sampai ada diskriminasi antara sekolah yang ada di pusat pemerintahan dengan sekolah yang ada di pelosok. Tujuan utama program ini adalah mencetak generasi emas, dan itu harus menyentuh seluruh lapisan siswa tanpa terkecuali,” tambahnya.








